Me Before You

by: Nabila Rhapsodios





INFO PRODUK


Judul: Me Before You
Pengarang: Jojo Moyes
Penerbit: Penguin Random House UK
Bahasa: Inggris
Tahun Terbit: 2012
Jumlah Halaman: 498


PROLOG

Halo, semuanya, senang sekali dapat kembali untuk mengulas buku. Kalian pasti sadar bahwa penulis "tenggelam" dengan ulasan video game sehingga menimbulkan kesan lupa untuk mengulas topik lain... 

Nggak juga kok...  

Penulis menyimpan banyak daftar buku atau lagu dari film untuk di ulas, cuma tentang video game itu memiliki lajur waktu yang sangat cepat update informasinya. Di tambah, informasi yang membuat pemain sangat paham atas sebuah judul video game, kadang terdapat di dalam publikasi tercetak atau non-cetak yang bukan memakai bahasa Indonesia, jadi harus melewati dulu proses olah dan analisis informasi untuk kemudian dengan kecepatan angin harus segera perbarui artikel lama atau tulis artikel baru supaya pemain puas, kekinian, dan punya pengetahuan mendalam. Itulah alasan dasar mengapa penulis terlalu tekun dengan artikel video game

Oke! Penulis kembali ke fokus utama artikel ini yaitu ulas buku. Buku apakah yang beruntung mejeng di blog ini? Jawabannya adalah Me Before You karya Jojo Moyes asal Inggris. Bagaimana penulis bisa berjodoh dengan buku ini? Ada ceritanya dong.

Sejujurnya, penulis tahu judul Me Before You adalah sebuah film, sama sekali zero knowledge bahwa film Me Before You merupakan adaptasi dari novel berjudul sama. Penulis tidak sengaja melihat iklan yang memberitahu film tersebut (ngomong-ngomong itu iklan berulang-ulang di putar) akan tayang perdana di sebuah channel yang hanya bisa di akses pakai TV kabel saat rentang bulan Agustus-September tahun 2017 kemarin. Penulis bergumam ketika melihat iklan film tersebut, "Ini film kayaknya bagus. Coba nonton ah, kalau sudah ada tanggal pasti pemutarannya." 

Tahun 2017 kemarin, tepatnya tanggal 20-an September (hanya masih ingat: film tayang di Sabtu malam) adalah penayangan perdana film tersebut. Penulis tidak nonton saat hari perdana itu, nonton di hari lain karena alasan tertentu. Setelah filmnya habis di tonton, penulis coba-coba menelusur tentang film tersebut. Hasil telusur menemukan bahwa film di rilis di 2016, novelnya terbit tahun 2012 (sekuelnya pun telah rilis tahun 2015), dan novel ini pernah fenomenal. Wah, langsung dalam hati, penulis tertawa-menangis, "Walah... Gw terlewat informasi bagus ini. Habisnya... Novelnya sama sekali nggak pernah lihat dari 2012-2017 di toko buku 'G' dan toko-toko buku yang lebih berat jual buku asing. Hiks hiks, kudet dah gw." 

Lalu, ketika penulis sedang menunggu pesawat untuk pulang ke tanah air di Terminal 3 Changi International Airport (setelah liburan tiga hari di suatu waktu ketika Desember 2017), penulis menyempatkan diri untuk mengunjungi toko buku "waktu" (catatan: Apa bahasa Inggrisnya hayo? Nah, itu nama toko bukunya). Nama di samarkan, nanti kesannya penulis promosi lagi... Hehe. Betapa terkejutnya penulis karena menemukan novel Me Before You (dengan kover cokelat seperti gambar di atas) dan sekali mendayung, dua tiga pulau terpenuhi: Novel kelanjutannya juga! Minta izin sama orang tua untuk beli dua buku sekaligus karena harganya tidak main-main bila digabungkan, yo. Syukur diperbolehkan untuk beli dua-duanya. Penulis senang juga karena ukuran novel Me Before You, tidak besar. Begitu pula dengan ukuran novel sekuelnya yang pocket sized. Ukuran-ukuran tersebut pas masuk ke dalam tas yang akan di taruh di kabin pesawat. Semenjak kejadian ini, penulis membaca dua novel itu dengan intens selama liburan akhir tahun 2017 kemarin. Selesai. 

Eh, selesai sesi Prolog! Bukan, selesai artikel ini. No, No. I still haven't reached a conclusion yet. I will tell you the summary of the book I initially wrote myself, but decided to share it in case somebody will perceive it beneficial or time-saving. Please, enjoy reading my Me Before You review.   


ISI

Cerita ini di awali saat hujan sangat deras dan berpetir di pagi hari saat 2007. Dua sepasang kekasih sedang menikmati waktu kebersamaan di pagi hari. Tetapi, tidak bisa berlama-lama karena sang laki-laki yang di panggil Will ini harus segera pergi ke kantor untuk urusan kerja yang mendesak butuh bantuannya. Sempat di cegat oleh kekasih perempuannya untuk pergi setelah hujan dan petir benar-benar berhenti, Will kekeuh ingin pergi dan kekasih perempuannya merelakan dia pergi.

Dari gedung tempat Will menginap sampai ketika dia telah di jalan menuju kantor, Will tidak henti-hentinya di telepon dan menelepon seseorang tentang laporan bisnis walaupun kondisi cuaca sedang hujan sangat deras dan petir mengganggu kelancaran komunikasi. Akhirnya, dia mencoba menghentikan taksi. Ada taksi yang bersedia untuk ditumpanginya. Menelepon sambil menyebrang untuk menghampiri taksi tersebut, di perparah dengan suara petir dan guyuran hujan yang keras, membuat Will tidak fokus untuk melihat kanan-kiri. Sebuah sepeda motor datang dari satu sisi dalam kecepatan tinggi menabrak dirinya sampai tidak sadarkan diri. 

Kisah berlanjut ke tahun 2009 yang akan di pimpin oleh protagonis utama Me Before You yaitu Louisa 'Lou' Clark yang berasal dari keluarga kelas menengah dan kelas pekerja yang bertempat tinggal di sebuah desa kecil di Inggris. Dia merupakan seorang perempuan 26 tahun yang ceria, lincah, dan ramah. Dia bersyukur dianugerahi jalinan asmara yang tenang dengan Patrick, keluarga yang sangat lekat dan akur, dan hidup selama 26 tahun yang tentram / biasa-biasa saja. Hidup tentram / biasa-biasa saja yang dijalaninya, membuat Lou hampir tidak pernah berjelajah ke tempat lain yang berlokasi di luar desa kecil yang dia tinggali. 

Lou bekerja di sebuah kafe kecil di desanya. Suatu hari, pemilik kafe tersebut memutuskan akan kembali ke kampung halamannya yaitu Australia. Berat hati harus menutup kafe yang dia bangun karena tidak ada yang akan mengurusnya. Walaupun pemilik kafe tersebut sangat suka dengan karakter Lou sebagai pegawainya, dengan penyesalan mendalam, pemilik kafe tersebut memberhentikan kontrak kerja Lou di hari yang sama. Sepanjang jalan pulang ke rumah Lou diselimuti perasaan dan pikiran tak menentu. Apa yang akan dilakukannya sekarang untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya karena berkurang satu penghasil pemasukan uang keluarga. Walaupun ayah Lou yaitu Bernard Clark dan adiknya yaitu Katrina 'Treena' Clark juga berpenghasilan dari kerja di sebuah tempat, mengandalkan pemasukan dari mereka saja masih dikatakan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hal ini mendorong Lou harus melamar kerja baru di Pusat Lowongan Kerja (Job Centre) secepat mungkin. 

Patrcik melihat Lou sedang menganggur setelah diberhentikan kerja dari kafe, merasa bahwa hal ini adalah kesempatan bagus untuk Lou meningkatkan keterampilan dan kualitas dirinya. Patrick merupakan seorang pelatih pribadi yang sangat terobsesi dengan diet dan olahraga. 

Lou memang perempuan yang tidak muluk-muluk dalam mencari pekerjaan yang ideal. Baginya, sudah dipekerjakan di beberapa tempat usaha merupakan hal yang patut disyukuri. Namun, optimismenya yang seperti itu bertabrakan dengan nurani hatinya yang merasa 'Di sini bukan tempat saya, tapi, saya punya keterampilan minim. Saya malu tapi, harus bagaimana lagi...'. Dia tidak lama berada di tempat usaha yang telah merekrutnya dan ini terjadi terus-menerus. Kerja di kafenya yang dulu, masih tetap menjadi sesuatu hal yang terus ada di pikirannya dan masih menjadi pengalaman kerja yang paling dinikmati olehnya. Hal ini menjadi tolak ukur dirinya ketika kerja di tempat usaha barunya. 

Penasihat kerja Lou dari Pusat Lowongan Kerja ikut prihatin dengan Lou yang sering keluar dan masuk beberapa tempat usaha. Dia sama kerasnya dengan Lou dalam mencari pekerjaan yang sangat cocok dengan Lou (walau dengan keterampilan minim). Secara tidak sengaja, penasihat kerja tersebut menemukan lowongan pekerjaan yang kebetulan tidak jauh dari rumah Lou dan kebetulan mencari pekerja yang sama sekali tidak akan dinilai deretan keterampilan yang dikuasai atau yang tidak dikuasai oleh perekrut. Lowongan pekerjaan tersebut adalah Asisten Perawatan Untuk Laki-Laki Berkursi Roda. Lou tidak tertarik dengan lowongan pekerjaan ini tetapi, setelah di desak oleh penasihat kerjanya, Lou akhirnya mau melamar pekerjaan itu dan melakukan wawancara di hari yang ditentukan oleh perekrut. 

Hari wawancara Asisten Perawatan Untuk Laki-Laki Berkursi Roda tiba. Lou didandani sangat rapi dan terlihat seperti perempuan karir oleh ibunya yaitu Josie Clark. Hal ini membuat Lou sangat tidak nyaman karena keluar dari zona nyamannya dalam berpakaian sehari-hari. Biasanya Lou selalu memakai pakaian dari kepala sampai kaki yang aneh dan eksentrik.

Lou memang sudah tahu bahwa calon perekrutnya, bertempat tinggal di permukiman kaya dan elit yang bersebelahan dengan atraksi turis Istana Stortfold (Stortfold Castle). Sewaktu tiba di sana, dia tetap tercengang tidak karuan melihat tempat tinggalnya yang sangat elegan dan mewah walau sering dilihat dan dilewati. Rumahnya memiliki nama Rumah Granta (Granta House).  

Di dalam rumah, Lou langsung melakukan sesi wawancara dengan perempuan paruh baya bernama Camilla Traynor. Lou menduga laki-laki berkursi roda yang barangkali akan di rawatnya merupakan suami Camilla. Camilla mengoreksi Lou. Putra satu-satunyalah yang akan di rawat oleh para pelamar untuk kerja sebagai asisten ini. Lou gugup dan sempat ingin kabur dari sesi wawancara karena rasa tidak pedenya muncul dan menyadari sesi wawancara yang dijalaninya berantakan. Camilla sama sekali tidak menggubris argumen dan jawaban Lou dan hari itu juga mempekerjakan Lou selama enam bulan dengan gaji yang lumayan banyak. Lou benar-benar memiliki nol pengalaman dalam menangani orang berkursi roda tapi, Camilla percaya atas Lou yang berkarakter ceria dan optimis mampu menaikkan semangat hidup putranya. Camilla ingin Lou berperan tidak semata sebagai asisten tapi juga sebagai seorang teman yang menemani putranya di pagi dan di siang hari ketika tidak ada orang yang bisa.  

Setelah wawancara usai, Lou di antar oleh Camilla untuk menemui putranya yaitu William 'Will' Traynor. Will menjadi lumpuh setelah di tabrak sepeda motor dua tahun lalu. Lou tidak hanya bertemu dengan Will, bertemu juga dengan Nathan yang merupakan perawat laki-laki pribadi Will yang mengurusi kebutuhan medis dan kebutuhan pribadinya seperti memakaikan pakaian, fisioterapi, bahkan sampai memandikannya. Selain Will dan Nathan, orang yang ditemui di Rumah Granta adalah Steven Traynor selaku ayah Will. Ayah Will merupakan pebisnis kelas atas yang bersahabat dan sedang mengalami masa pernikahan yang sulit. 

Jauh sebelum kelumpuhannya, Will mempunyai kehidupan yang semarak dan penuh warna. Contohnya adalah perjanjian bisnis yang menjanjikan, mendalami olahraga ekstrim, dan berpelesir ke berbagai negara. Sekarang dengan kondisi lumpuh, dia yakin bahwa dia tidak akan pernah bisa mendapatkan kehidupannya yang dulu. Dia menjadi depresi, mudah berganti-ganti suasana hati, suka meraja, dan sinis. Will bereaksi keras dan dingin untuk kepribadian Lou yang ceria sehingga memperlakukannya dengan rasa jijik karena paham tujuan asli ibunya dalam mencari "asisten" untuknya adalah supaya dia tidak terjatuh lebih dalam ke lubang depresi.

Pada mulanya, Lou sangat tidak menyukai pekerjaan menjadi asisten Will. Terlebih karena Will mengabaikannya sekaligus selalu diselimuti rasa sepi dan rasa kebosanan tiap kali sedang bekerja. Kerjaannya di Rumah Granta selalu dihabiskan dengan mencuci, mengepel, menyetrika, mengganti bunga, membersihkan dengan alat debu, dan membaca; nyaris tanpa ada percakapan dan interaksi dengan Will. Lou merasa jauh sekali dari tugas utamanya yaitu dia ada di Rumah Granta dan di sekitar Will untuk menyemangatinya (hal ini di beritahu oleh Nathan). Lou curhat kepada Treena tentang semua ini. Treena meminta Lou untuk tetap bertahan kerja sebagai asisten untuk Will karena dia baru saja berhenti dari pekerjaannya karena memutuskan untuk kuliah kembali. Mendengar hal ini, Lou semakin terbebani untuk mendapatkan penghasilan demi keluarganya. 

Selama kerja untuk Will, Lou merasa Rumah Granta hampir tidak pernah didatangi tamu. Namun, pada suatu hari ketika dua minggu bekerja di sana, barulah ada dua tamu yang ingin menengok Will. Tamu pertama yaitu Rupert Collins sedangkan tamu kedua yaitu Alicia Dewares. Pertemuan antar tiga orang ini bisa dikatakan tegang dan canggung. Lou berusaha transparan dan pura-pura tidak dengar semua percakapan dalam pertemuan ini tapi, dia menangkap beberapa hal bahwa yang laki-laki merupakan mantan sahabat Will yang sudah tidak berhubungan satu sama lain dan mereka berdua mengaku kepada Will bahwa sudah bertunangan. 

Setelah mereka pamit pulang dalam keadaan terpaksa dan tamu perempuan menangis karena Will "mengusir" mereka, kejadian mengejutkan terjadi yaitu Will menghancurkan semua foto yang di simpan di dalam figura dan album yang terdapat di kamar pribadinya. Lou marah dan menyayangkan tindakan Will ini. Will menyerahkan penanganan kepada Lou atas figura yang pecah dan foto yang robek tersebut. Mau di buang ke tempat sampah, Will tidak mempermasalahkannya. Lou baru menyadari bahwa beberapa foto perempuan di dalam figura yang selalu dilihatnya ketika membersihkan kamar Will adalah perempuan yang barusan bertamu. Lou akhirnya paham alasan di balik penghancuran yang dilakukan Will. 

Lou mencoba untuk memperbaiki figura dan foto dalam album yang masih dikatakan layak. Lou menenangkan Will bahwa foto yang mengambil momen dirinya sedang bahagia di sebuah tempat, baik sendiri maupun bersama teman-teman, akan terpajang di tempatnya semula. Sebaliknya, semua foto kebersamaan dengan Alicia, semua foto yang membuat Will sedih, dan foto Will yang "menurut" Lou tidak bagus untuk dipamerkan di kamar pribadinya, akan di taruh di dalam laci yang jarang di buka oleh Will. Tidak diketahui Lou, penanganan ini membuat Will tersentuh. Hal ini adalah titik awal mereka untuk benar-benar berinteraksi meskipun bentuk interaksi mereka berupa pertengkaran argumen selama satu hari penuh. 

Will mengundang Lou untuk menemaninya menonton film bahasa asing dengan teks terjemahan Inggris. Walaupun Lou sempat mengaku kepada Will bahwa dirinya tidak suka film yang disertai teks terjemahan, Lou menangis setelah film usai karena filmnya sedih. Keduanya mulai membangun ikatan lewat Will yang suka menyuruh Lou untuk baca buku yang diberikan karena Will akan bertanya pendapat Lou tentang apapun yang tertulis di dalam buku. Langkah ini merupakan upaya Will untuk mempertajam pengetahuan dan mengasah kemampun beropini pada diri Lou. 

Pada akhirnya, Lou dan Will menjadi teman dekat. Mereka berlanjut untuk mengakrabkan diri setiap hari. Lou sadar bahwa Will adalah seorang berbudaya (maksudnya, punya selera yang umum di sukai oleh orang kaya dan eksekutif muda), berpendidikan, dan seorang yang sangat mengkhawatirkan orang lain yang menjalani hidup tidak terarah dan seolah-olah mengikuti saja air akan bermuara kemana. Semua hal tersebut, sangat kontras dengan hidup Lou yang selama 26 tahun dijalaninya. Hidup Lou selalu sangat sederhana. Artinya adalah tidak memiliki banyak keterampilan, minat, kegemaran, dan berjalan-jalan jauh dari kampung halamannya. Will mendorong Lou untuk memperluas horizon miliknya (maksudnya, pengalaman dan minat) dan memberi petuah bahwa Lou sendirilah yang bertanggung jawab untuk membuat hidupnya sendiri penuh arti semaksimal mungkin. 

Di bawah perawatan Lou, Will semakin mau di ajak berbicara serius maupun remeh-temeh dan semakin berpikiran terbuka selagi Lou dan Will bertukar pengalaman hidup masing-masing. Hal ini tidak luput menjadi perhatian Camilla dan Nathan yang sama-sama terkejut dan bersyukur dalam hati. 

Suatu hari, Lou memperhatikan lengan Will banyak bekas irisan. Lou terkejut atas apa yang dilihatnya itu. Bekas irisan tersebut pertanda bahwa Will pernah berusaha bunuh diri. Lou menjadi teringat atas perkataan Nathan bahwa lumpuh yang di alami Will akibat di tabrak motor dua tahun lalu, tepat mengenai saraf sumsum tulang belakang sehingga merusak saraf di tubuhnya. Nathan memberi tahu Lou, Will tidak akan bisa lagi menggunakan tubuhnya dan harus bertopang pada kursi roda serta orang lain. Fisioterapi yang dijalankan, semata untuk membuat otot dan saraf yang masih berfungsi walau tidak optimal seperti dulu, tidak kaku untuk digerakkan dan dirasakan. Lou menyampaikan simpati dan empati dalam hati untuk Will karena pasti sulit mendapati hidupnya berbeda dari dulu. 

Suatu hari, Lou secara tidak sengaja mendengar perdebatan sengit antara Camilla dan saudari Will. Saudari Will memberitahu Camilla bahwa Will pernah berusaha bunuh diri tapi, beruntung cepat ditemukan oleh Steven dan saudarinya setelah Camilla menolak mengabulkan keinginan Will untuk diantarkan ke Dignitas, Swiss untuk mengakhiri hidupnya (catatan: Dignitas di sini benar-benar ada di dunia kita. Organisasi yang tidak mencari keuntugan kontroversial karena menawarkan bantuan bunuh diri untuk yang menderita penyakit terminal dan/atau sakit fisik dan mental sangat parah. Didukung oleh dokter Swiss yang memenuhi syarat. Walaupun kontroversial, Dignitas ada juga tawaran perawatan paliatif dan pencegahan bunuh diri untuk semua pasien penyakit terminal dan/atau sakit fisik dan mental sangat parah. Dignitas adalah suara paling aktif di dunia untuk menyerukan hak mereka berhak mati atas dasar keinginan sendiri). 

Camilla sangat terhenyak dan ngeri atas penuturan putrinya. Karena suami dan putrinya tidak pernah memberitahu bahwa Will telah melakukan usaha bunuh diri. Kemudian, perdebatan sengit itu, melahirkan sebuah janji yang diucapkan oleh Camilla bahwa dia akan menghormati keinginan terakhir putranya yaitu akhiri hidup lewat bantuan Dignitas (karena Camilla paham karakter putranya yang sangat keras kepala bila sudah punya keinginan dan semenjak lumpuh, putranya tidak mau hidup dalam pandangan kasihan dari orang-orang). Hal ini membuat putrinya resah karena tidak ada satu di antara kedua orang tuanya mau membatalkan niat Will ke Dignitas. Tapi supaya hati putrinya tenang, Camilla melanjutkan penuturannya bahwa putranya telah memberi waktu enam bulan untuk ibunya, saudarinya, dan ayahnya untuk membuktikan bahwa hidup masih bisa dinilai berharga meskipun lumpuh, dengan hasil akhir, Will tidak akan pernah lagi berpikir ke Dignitas. Camilla berniat melakukan hal itu dan menunjukkan kepada Will bahwa dia punya pemikiran keliru atas hidup. Apabila pembuktian enam bulan tersebut gagal, Will menang dan orang tuanya tidak bisa menyanggah keinginan pergi ke Dignitas. Putrinya tidak tahan menyerap semua isi percakapan antara dia dan ibunya juga sifat saudaranya sehingga keluar dari rumah dalam keadaan kesal sambil menangis. 

Lou menyembunyikan pengetahuan adanya kesepakatan antara Camilla dan Will serta alasan sesungguhnya Camilla membuka lowongan pekerjaan asisten rupanya, tidak semata untuk menyemangati putranya tapi juga, upaya terakhir dirinya untuk menggagalkan niat Will. Lou tersadar bahwa keluarga Will dan Nathan mengharapkan peran dirinya untuk berhasil mencegah Will ke Dignitas. Walaupun Lou tahu sembunyi-sembunyi semua isi perdebatan sengit sebelumnya, dia menceritakan ulang kepada Treena yang berjanji pada Lou akan menutup mulut rapat. Di bantu Treena, Lou membuat segala macam cara yang akan membantu meyakinkan Will untuk meninggalkan keinginan bunuh diri di Dignitas.

Cara-cara yang dilakukan Lou atas nasihat Treena selalu gagal. Akhirnya dia nekad merencanakan sendiri tanpa bantuan adiknya yaitu mengajak Will dan Nathan untuk pergi menonton pertandingan kuda. Sayangnya, perjalanan mereka bertiga untuk ke sana, bisa dikatakan jauh dari kata sempurna. 

Disela-sela agenda atau cara untuk menyakinkan Will, Lou masih suka menemui kekasih jangka lamanya yaitu Patrick walau pada akhirnya mereka putus karena hubungan dia dan Will. Sementara itu, kejadian lain ikut terjadi yaitu Bernard kena pemutusan hak kerja yang menyebabkan keuangan keluarga Clark semakin sulit. Sampai satu hari, Steven menawarkan sebuah posisi yang di rasa cocok diisi oleh Bernard. Lou menyadari bahwa Will sedang berupaya mengamankan hak kebebasan miliknya. 

Selanjutnya, ada hari istimewa yang di hadiri oleh Lou dan Will. Adalah pernikahan mewah Rupert dan Alicia. Mereka berdua tidak henti-hentinya menari dan menggoda di pernikahan ini. Tidak peduli dengan pandangan cemoohan dan simpati yang menilai 1) Will adalah orang bernasib malang pakai kursi roda di usia masih muda 2) Will datang ditemani Lou yang berasal dari keluarga non kaya dan elit 3) Sangat disayangkan hubungan Will dan Alicia putus karena adanya kecelakaan, padahal serasi. Di hari ini, Will berkata jujur bahwa Lou adalah alasan utama untuk terus membuka mata di pagi hari. 

Mendekati tenggat waktu untuk enam bulan habis, Lou merencanakan liburan berlayar. Dia meyakinkan Will untuk ikut bersamanya. Tetapi, sebelum bisa berangkat, Will terkena pneumonia kritis. Sebagai gantinya, Lou membawa Will (Nathan ikut juga) ke pulau Mauritius setelah Will sembuh. Malam sebelum mereka pulang ke Inggris, Lou mengaku kepada Will bahwa dia mencintainya. Will ingin memberi tahu satu rahasia tapi, Lou mengaku tahu rahasia itu yaitu berencana pergi ke Dignitas. Will mengaku bahwa waktu kebersamaan mereka selama enam bulan adalah waktu istimewa tapi, dia tetap tidak tahan harus hidup dengan kursi roda. Will bersikeras pada pendiriannya, tetap pergi ke Swiss. Marah, terhina, dan terluka, Lou meninggalkan Will dan dia tidak bicara sama sekali dengan Will sepanjang perjalanan pulang. 

Orang tua Will menyambut bahagia rombongan trio itu. Kebahagiaan mereka bertambah ketika melihat Will dalam keadaan sangat cerah dan baik. Akan tetapi, setelah pulang dari Mauritius, Lou mengundurkan diri dari pekerjaan sebagai asisten untuk Will. Nathan dan keluarga Traynor paham atas sifat menjauh Lou. Sekalipun ada Lou yang menggelitik hati dan mengembalikan kepribadian Will sebelum kecelakaan, niat Will pergi ke Dignitas, tidak bisa di ubah. 

Novel Me Before You di akhiri dengan narasi cerita Lou sedang ada di kafe favorit Will bila sedang ada di Paris. Di sana Lou membaca kata-kata terakhir Will dalam sebuah surat yang sengaja ditinggalkan untuknya. Kata terakhir surat itu berbunyi, 'just live'

Semua penjabaran di atas merupakan intisari novel. Di dalam novelnya juga, ada bab yang dikhususkan melihat sudut pandang cerita dari karakter Camilla, Steven, Katrina, dan Nathan. Rata-rata isinya adalah dilema, hidup pribadi masing-masing, percikan harapan, dan penilaian mereka atas Lou. Bagian Camilla adalah bab khusus yang paling menyakitkan dan membuat terharu untuk di baca. 


Film: Me Before You

Film Me Before You merupakan sebuah drama romantis yang disutradarai oleh Thea Sharrock dan skrip skenario diciptakan oleh Jojo Moyes yang tidak lain lagi adalah pengarang novel fiksinya. Serangkaian nama-nama seperti Emilia Clarke (sebagai Louisa Clark), Sam Claflin (sebagai William Traynor), Jenna Coleman (sebagai Katrina Clark), Charles Dance (sebagai Steven Traynor), Janet McTeer (sebagai Camilla Traynor), dan Matthew Lewis (sebagai Patrick) meramaikan film ini.

Film ini pernah dinominasikan ke dalam enam kategori. Masing-masing adalah kategori Choice Movie: Liplock untuk chemistry Clarke dan Claflin dalam Teen Choice Awards 2016, Tearjerker untuk chemistry Clarke dan Claflin lagi dalam MTV Movie + TV Awards 2017, Best Romance TV Spot dalam Golden Trailer Awards 2016 & Golden Trailer Awards 2017, Best International Actress untuk Clarke dalam Jupiter Award 2017, dan Favorite Soundtrack dalam Kids' Choice Awards USA 2017. Di semua ajang tersebut, tidak ada yang dinobatkan sebagai pemenang.

Dinobatkan sebagai pemenang ketika mengikuti ajang Heartland Film 2016 di kategori Truly Moving Picture AwardPeople's Choice Awards USA 2017 di kategori Favorite Dramatic Movie, Golden Trailer Awards di kategori Best Romance & Best Romance Poster, dan ASCAP Film and Television Music Awards di kategori Top Box Office Films.


Movie Poster

Film Me Before You diciptakan berdasarkan novel best seller milik Jojo Moyes dan selama nonton filmnya, penonton tidak berhenti bergumam bahwa alur film dari pembukaan sampai penutupan benar-benar mengikuti alur di novel.  


Sam Claflin as William Traynor (left) & Emilia Clarke as Louisa Clark (right) -Mozart Concert Scene-

Fokus utama film ini adalah seorang perempuan bernama Lou yang kehilangan pekerjaan di kafe kecil yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Karena hal ini, dia mulai mencari pekerjaan baru. Akhirnya dapat panggilan wawancara sebagai asisten perawatan untuk laki-laki kaya raya yang bernama Will. Will tidak mampu menggerakkan anggota tubuh dari leher sampai ke bawah karena kecelakaan lalu lintas. Walaupun awal perkenalan Lou dan Will sangat dingin, pada akhirnya, cinta bersemi di hati keduanya. 


Final Note: 

Saya orang yang menonton filmnya dulu, baru setelahnya timbul niat kuat harus cari dan beli novelnya karena novel yang dijadikan karya adaptasi lazimnya jauh lebih bagus. Filmnya tidak mengecewakan untuk saya bila dilihat dari segi penyampaian alur cerita karena benar-benar identik dengan novelnya (jangan lupa lihat deleted scenes juga). Setelah nonton filmnya dulu, saya punya bayangan nyata untuk semua karakter selagi saya mencoba menamatkan bukunya dan saya rasa ini nilai plus. Karena saya sebagai pembaca novelnya, tidak lagi repot membayangkan bagaimana rupa semua karakter bila di dunia nyata. Mau tahu Will seperti apa, ya, tinggal ingat Sam Claflin. Sosok dia dan lawan mainnya yaitu Emilia Clarke selalu membayangi pikiran saya ketika baca, mungkin kena pengaruh dari chemistry mereka berdua yang terlalu kuat saat memainkan karakter masing-masing di versi film. Saya suka sekali! Keterhubungan mereka membuat saya seutuhnya terbawa arus dalam kisah cinta Lou dan Will.

Saya sudah lama tidak menangis ketika baca buku, baik fiksi dan non-fiksi. Buku yang saya baca di 2016 dan di 2017, tidak ada satupun yang membuat saya menangis. Kira-kira kapan terakhir kali saya menangis untuk sebuah buku, tiga tahun lalu. Di samping membangkitkan perasaan sedih di benak saya, perasaan lain yang bangkit adalah tertawa, marah, bahagia, dan frustrasi dari awal baca sampai bagian akhir cerita, khususnya untuk semua karakternya selagi mereka menjalani hidup masing-masing dengan waktu yang dimiliki. 

Saya belum pernah baca novel karangan Moyes. Me Before You merupakan novel pertama dari Moyes yang saya baca. Bila boleh saya berkata, saya suka gaya penulisannya. Me Before You bukanlah novel romantis klise yang sering di temukan. Karena Moyes menyembunyikan makna sebenarnya di balik embel-embel romantis. Adalah pertanyaan yang sangat menghasut dan menantang: "Bagaimana cara menghadapi sakratul maut atau mati yang terhormat?". Lihat paragraf tepat di bawah untuk berpikir.


Jojo Moyes

Satu hal yang paling saya suka dari novelnya adalah topik. Di mata saya, Moyes 'mencari mati' dan 'melakukan gambling' untuk novel ini bisa laku di pasaran dengan topik yang diinginkan olehnya. Akhirnya sukses terjual lebih dari 8 million di seluruh dunia. Topiknya bersifat serius. Sebut saja, bunuh diri yang di bantu oleh sebuah organisasi (atau dilakukan sendiri) dan euthanasia untuk penderita quadriplegic (satu contohnya adalah lumpuh yang di alami Will) serta di tambah dengan dilema orang-orang di sekitar penderita dan penderitanya sendiri. Semua topik itu, jarang sekali ada orang yang ingin mendiskusikannya di dunia nyata karena tidak suka. Oleh karenanya, untuk nyalinya yang berani (banget) membawa semua topik ini ke dalam Me Before You, saya menghargai usahanya walaupun saya merasa, Moyes nyaris berhasil melakukannya. Hal yang tidak mudah.

Apakah paragraf di atas cukup menghasut dan menantang pikiran? Mau iya atau tidak, menurut saya novel Me Before You bisa di jadikan salah satu buku yang menarik untuk di ulas dalam book talk, bedah buku, dan dijadikan penelitian ilmiah terutama bidang Hukum, Psikologi, Humaniora, Sosial, dan Politik. Pasti akan menjadi bahan diskusi yang seru.

Sebelum mengakhiri artikel ulasan ini, ada baiknya lihat poin-poin Kelebihan dan Kekurangan dari film dan novel Me Before You supaya lebih jelas (berdasarkan pengalaman pribadi).

Kelebihan

Film
  1. Acting Emilia Clarke dan Sam Claflin yang berhasil menghidupkan karakter Lou dan Will. 
  2. Identik dengan novel, mulai dari alur cerita, alur waktu, dan karakter. 
  3. Banyak dialog penting dalam novel "disuarakan" di versi film. Salah satunya adalah surat terakhir Will.

Novel
  1. Topik yang berani dan kontroversial (ini juga berlaku untuk film). Saya percaya, cocok untuk didiskusikan dalam acara tertentu. 
  2. Gaya penulisan Moyes. Dia menyuguhkan kepada pembaca pengembangan karakter yang menarik dan realistis, alur ceritanya terlihat menjanjikan untuk calon pembaca (kalau untuk saya pribadi, saya tidak kecewa dengan apapun yang dijanjikan dari novelnya), untuk yang sudah baca alur ceritanya: memikat, beragam emosi yang diinginkan oleh pengarangnya tersampaikan dengan baik, penuturan alur dan dialog di tulis sangat rapi sehingga tidak sulit untuk di baca, dan kecepatan alur waktu di dalam novel bisa dikatakan stabil jadi mudah diikuti. 
  3. Hubungan antara Lou dan Will bukanlah hubungan perempuan dan laki-laki yang mengikuti lintasan jalur klise dan konvensional seperti yang terdapat di novel romantis biasa. Hubungan mereka lebih ke arah sebuah cerita kehidupan dan keputusan yang ditentukan yang bisa mempengaruhi orang-orang sekitar dalam beragam cara yang tidak diharapkan.

Kekurangan

Film
  1. Kurang cukup untuk mengimbangi topik kontroversial, tidak seperti di novelnya. 
  2. Saya melihat filmnya, jatuhnya, menjadi film drama romantis klise (tolong pakai kata sangat). Ya saya sadar, karena durasi. Nyatanya, novelnya sendiri, tidak seperti itu. 
  3. Saya memiliki permasalahan kecil menjelang epilog karena mengalami modifikasi untuk filmnya. Walau di Paris sambil baca surat terakhir Will, tetap ada.
Novel
  1. Patrick merupakan karakter yang sangat buruk. Dia ada di sekitar Lou hanya untuk menerangkan bahwa Lou adalah perempuan yang buruk. Moyes menghabiskan waktu dan energi untuk meyakinkan para pembaca bahwa Patrick dan Lou adalah pasangan bahagia di satu titik poin waktu. Maaf Moyes, saya selaku pembaca, tidak bisa memahami tiap poin yang diinginkan olehmu untuk menciptakan karakter Patrick ini dan hubungannya dengan Lou. Patrcik menjadi karakter yang sangat pointless dalam keseluruhan cerita.
  2. Saya merasa bab khusus bagus karena melihat cerita dari sudut pandang lain. Untuk tidak bosan karena mengikuti terus sudut pandang Lou dan dijadikan sebagai selingan. Namun, penempatannya yang saya kurang suka, muncul tiba-tiba. Kesannya jadi "alat kejut jantung" karena harus ikuti karakter lain setelah & sebelum membalik bab sudut pandang Lou. Mungkin, bab khusus tersebut, lebih baik di taruh di bab khusus berjudul Another Story / Side Story.
  3. Topik dan bagaimana karakter disesuaikan dengan topik yang bersifat kontroversial (sensitif juga) tersebut oleh Moyes. Ingat, ini kontroversial, pasti ada pihak yang pro, ada pihak yang kontra. Bahkan ada pihak yang netral, objektif, dan menyikapinya dengan bijak. Kekurangan yang satu ini berlaku untuk novel dan film. 

Saya tidak bisa menulis apa lagi, kecuali tema menyeluruh film dan novel Me Before You adalah pilihan. Pilihan untuk menjalani kehidupanmu dengan memakai cara yang di rasa cocok dan keterampilanmu untuk memegang teguh pilihan tersebut. Bahkan Moyes membuat saya dan pembaca lainnya untuk bertanya pada diri sendiri, "Apakah pilihan yang di ambil sudah merefleksikan sempurna siapa dirimu sesungguhnya?". 

Pesan terakhir yang disampaikan Moyes adalah kita harus sadar bahwa ada orang yang berbeda dari diri sendiri. Kita harus paham bahwa memang benar, ada orang menyerupai karakter di dalam novel dan film di belahan tempat lain dan bukan berarti kita belum pernah bertemu dan berinteraksi langsung dengan mereka, menganggap keberadaan mereka tidak ada di Bumi.

Penutupan artikel selalu di sertai pemberian bintang rekomendasi. Bintang untuk film Me Before You adalah 3.3 bintang dari 5 bintang. Sementara untuk novelnya, saya beri 4.1 bintang dari 5 bintang. Saya sangat menikmati keduanya tapi, setelah tahu dan dengar bahwa Me Before You membuat beberapa individu dan beberapa sekelompok masyarakat, terutama penyandang quadriplegic / disability beserta orang yang memiliki asosiasi dengan mereka yang ada di luar sana, menjadi sangat marah dengan semua isinya sehingga saya merasa, sangat tidak nyaman untuk memberikan bintang yang sangat tinggi atau sempurna 5 bintang (catatan: Bahkan saya menulis ulasan Me Before You dengan sangat hati-hati)

Saya merekomendasikan siapapun untuk membaca novel Me Before You. Jadi, silakan pergi ke toko buku atau mampir ke toko online untuk membelinya. Jangan lupa juga, lihat film adaptasinya! (Well, siapa tahu pembaca yang baik hati telah mampir untuk baca ulasan ini, ada yang tertarik untuk beli dan nonton. Hehehe). Akhir kata saya ucapkan Terimakasih dan Ciao! 



-FIN-







References:
  • Novel Me Before You karya Jojo Moyes.
  • Film Me Before You yang disutradarai oleh Thea Sharrock.
  • IMDb.






P.S. Halo, sudah tahu belum apabila novel Me Before You sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Gramedia Pustaka Utama? Dengan judul Me Before You - Sebelum Mengenalmu. Saya mengulas novel Me Before You memakai versi bahasa Inggris (catatan: Karena saya beli novelnya yang bahasa Inggris. Versi bahasa Indonesia pastilah sama dengan teks Inggris aka aslinya, guys. Jadi, jangan anggap ulasan saya bukan juga ulasan untuk bahasa Indonesia, okay guys? ^^). 

Memakai dua kover. Kover pertama tahun 2013:


Me Before You - Sebelum Mengenalmu Cover #1

Saya tidak pernah lihat kover di atas di jual di toko buku. Malah yang sering lihat adalah kover kedua ini dari enam bulan lalu (mungkin pakai kover baru untuk commemorate promosi filmnya dan ancang-ancang menantikan novel keduanya versi Indonesia dulu. Sekarang novel kedua, terjemahan bahasa Indonesia, sudah ada):



Me Before You - Sebelum Mengenalmu Cover #2





* Disclaimer: Courtesy of  Google Images, Warner Bros (Sam Claflin & Emilia Clarke -Mozart Concert Scene- Picture) & Pinterest (Jojo Moyes Picture).  The material published on this website is intended solely for general information and reference purposes and is not legal advice or other professional advice. 
  






Comments