Solitude In Pursuit of a Singular Life in a Crowded World

by: Nabila Rhapsodios




INFO PRODUK

Judul: Solitude In a Pursuit of a Singular Life in a Crowded World
Pengarang: Michael Harris
Penerbit: Penguin Random House Books -United Kingdom (UK)-
Bahasa: Inggris
Tahun Terbit: 2017
Jumlah Halaman: 256


PROLOG

Bagaimana buku ini bisa sampai ada di tangan penulis? Penulis menjawab, "Buku ini dibeli secara spontan di toko buku Kinoxxxxxx (maaf disamarin huruf sisanya). Satu tatapan sekilas dan langsung sambar. Tidak ada dalam reading list milikku." Jadi begini ceritanya (bagi yang kepo...).

Pada Sabtu, 20 April 2019, penulis melakukan perjalanan ke sebuah Mal elit di Jakarta. Malnya dekat dengan patung dua orang merentangkan tangan dan air mancur bundar. Penulis sudah tidak asing lagi dengan Mal itu karena sesekali mengunjunginya walau frekuensi kunjungan kesana, tidak rutin. Tapi, kunjungan penulis ke Mal itu menjadi istimewa. Istimewanya adalah penulis menggunakan transportasi MRT Jakarta untuk bisa ke Mal itu. Ini pengalaman pertama menggunakan MRT di Jakarta untuk penulis walaupun bukan pengalaman pertama memakai MRT ke tempat tujuan. Penulis merasa MRT Jakarta cukup nyaman dan stasiunnya bersih, mirip dengan beberapa MRT yang pernah dipakai oleh penulis di kota dalam negara-negara tetangga. Semoga ke dua hal tersebut tetap terjamin sampai kapanpun dan tidak ternoda oleh ulah pihak yang tidak mengenal ketertiban dan kebersihan fasilitas umum. 

Kita balik ke kisah belakang layar buku... 

Setelah dari toko buku lokal terkemuka berawalan 'G', penulis berkeliling dari satu toko ke toko lain dengan membawa tentengan buku yang dibeli dari toko buku itu. Tiba-tiba penulis teringat bahwa di Mal terdapat toko buku Kinoxxxxxx, toko buku yang banyak menjual buku impor dan keberadaannya bisa dibilang 'langka' karena tidak semua Mal elit mempunyainya. Penulis pun memasukkan toko buku Kinoxxxxxx ke dalam destinasi selanjutnya. Nah, disinilah satu hal yang membuat penulis terkejut setengah mati terjadi...

Ketika hampir sampai di toko buku Kinoxxxxxx, penulis melihat eskalator dipenuhi banyak orang dan ketika mendongak ke atas, banyak orang juga seolah-olah menunggu seseorang istimewa untuk lewat. Kumpulan orang ini menjerit histeris, bahkan sudah terdengar dari berapa meter jauhnya ketika penulis masih berjalan agak jauh dari spot eskalator yang dikerubungi banyak orang tersebut. Kekasih penulis mengeluarkan tebakan di telinga bahwa orang istimewa yang membuat teriakan histeris di Mal Sabtu siang tersebut adalah R1. Dia sangat yakin akan hal ini karena pernah berada di situasi dan tempat sama dengan Sabtu siang tersebut setahun yang lalu, sementara penulis, untuk memastikan dugaan kekasih, bertanya kepada wanita asing. Wanita asing menjawab, "Pak Jokowi". Kekasih girang karena menduga dengan tepat dan penulis terbelalak tidak percaya karena bisa melihat langsung orang nomor satu di negara ini. Singkat cerita, penulis tidak mendapatkan kesempatan berfoto bareng dengan R1 walaupun kita berdua menaiki eskalator dengan kecepatan tidak biasa dan akhirnya, berhenti di tengah jalan karena R1 dan para bodyguards-nya yang tinggi, tidak memelankan langkah sehingga kita berdua tidak mampu menyamai langkah mereka. Penulis hanya bisa ambil foto R1 dari jauh dengan zoom 4x. Setelahnya, kita memutuskan turun ke lantai dasar untuk ke Kinoxxxxxx.

Sudah berada di Kinoxxxxxx. Eh, baru saja masuk, di sebelah kiri penulis, buku Solitude In Pursuit of a Singular Life in a Crowded World memanggil penulis untuk mendekat. Penulis tertarik karena judulnya yang pastilah membahas kesendirian dan butuh berada di tempat sunyi untuk menyingkir dari dunia yang semakin lama, semakin padat dan "berisik". Ketertarikan penulis timbul untuk buku ini, mungkin dipengaruhi juga dengan introversi yang terdapat dalam diri sendiri. 

"Buku yang sangat menarik!", begitu pikir penulis. Tapi, ditaruh lagi ke atas rak karena "tersedak" dengan harga bukunya dan baru ingat kalau sudah beli dua buku dengan harga ratusan ribu di 'G'. Penulis menjauhi buku itu untuk berkeliling ke rak dan buku lain. Penulis mendapatkan satu buku yang absolut harus dimiliki karena penggemar berat. Judul bukunya adalah Final Fantasy XV World Prologue. Menemukan buku FF XV ini juga dianggap sebuah ketidaksengajaan ketika melihat ke rak yang menyimpan banyak buku asli dari Jepang. Di rak buku tersebut banyak juga buku art dan behind the scene dari video game dan anime yang dikenal oleh penulis, sebut saja Persona, NieR: Automata, Pandora Hearts, dan Fairy Tail. Harga buku FF XV ini mahal tapi, karena jarang ada di toko buku negara kita, penulis tetap membelinya. Penulis pergi ke kasir untuk bayar buku FF XV. Selesai transaksi di kasir dan akan bersiap-siap keluar dari Kinoxxxxxx, penulis tetap kepikiran dengan buku karangan Michael Harris sehingga penulis balik lagi ke rak dekat pintu masuk untuk melihat bukunya satu kali lagi dan kali ini diputuskan akan dibeli. Penulis memilih buku yang size paper-nya medium, maksudnya nyaris ukuran pocket tapi, masih sedikit besar. Perjalanan ke Mal elit di bulan April, berakhir bahagia walau penulis mendengar dompet menangis keras.  

ISI

Apa yang terlintas di pikiran ketika mendengar kosa kata 'kesunyian', 'kesendirian', 'keterkucilan'? Tiga istilah yang merupakan terjemahan dari solitude itu sendiri. Apakah istilah tersebut mudah dianut oleh banyak pihak di era serba terhubung ini? Mungkin untuk sebagian orang tidak mudah menganut itu karena ketakutan tidak update kondisi lingkungan dan sosial di sekitarnya. 

Akankah banyak orang setuju bahwa 'kesunyian' dan 'kesendirian' perlahan pudar dari tiap pengalaman masing-masing karena hidup masyarakat sekarang senang berbagi -pengalaman berbagi yang tidak persis dengan dekade-dekade ke belakang-? Sekarang masyarakat sering ditemani oleh bunyi smartphone 24 jam non stop dan mudah tergelitik dengan feeds media sosial karenanya, waktu untuk diri sendiri terasa dipaksakan agar ada di kehidupan masing-masing? Bagaimana jika 'kesunyian' dan 'kesendirian' masih sebuah hal berharga yang ditawarkan kepada kehidupan kita? Sesuatu yang terus dilupakan tetapi, hidup kita masih sangat membutuhkannya? 

Buku karangan Michael Harris mengajarkan kita bahwa waktu 'sunyi', 'sendiri', 'terkucil' bisa memperbaiki konsep diri dan meningkatkan daya pikir kreatif sekaligus tingkat produktifitas pribadi. Berkembang pesatnya teknologi dalam hidup ini dan ketergantungan kita terhadap media sosial telah menciptakan rantai baru yang mengalihkan perhatian sekaligus pembuktian bahwa tidak diragukan lagi memungkinkan kita untuk terhubung dengan dunia dalam cara yang tidak pernah ada sebelumnya. Walaupun dengan semua hubungan yang instan dan mudah itu, masih ada yang merasakan rasa kesepian yang mendalam. Ini merupakan paradoks tapi, Michael Harris membahas argumen penting terkait hal ini dengan elegan.

Michael Harris percaya bahwa kemampuan atau keinginan ingin menyendiri atau mengucilkan diri sangat dipandang sebagai sesuatu yang menjijikan dan menakutkan. Akan tetapi, itu penting, terutama ketika semua orang saling terhubung terus-menerus melalui e-mail dan akun sosial media yang dimiliki masing-masing tapi, di saat bersamaan kita menjadi lebih kesepian dibandingkan sebelumnya. Banyak orang percaya untuk menyembuhkan dari perasaan dirundung kesepian adalah memperbanyak teman dan relasi, di lain sisi, Michael Harris percaya obat yang bagus adalah waktu 'sunyi', 'sendiri', 'terkucil'. Hal penting yang perlu digarisbawahi dalam buku ini adalah perasaan merasa kesepian adalah bentuk 'sunyi', 'sendiri', 'terkucil' yang keliru, perasaan merasa kesepian merupakan sebuah emosi yang menjengkelkan yang timbul dari kecurigaan bahwa semestinya kita ada di tempat yang layak untuk kita atau kita semestinya ditemani oleh orang lain. Sementara 'sunyi', 'sendiri', 'terkucil' adalah keadaan kita merasa nyaman dan produktif yang dilakukan saat waktu sendiri yang berhasil membuat kita bahagia. 

Lewat buku ini, Michael Harris ingin mengingatkan kita pada hal penting dari 'sunyi', 'sendiri', 'terkucil' yang sedikit dilupakan, padahal sangat diperlukan untuk membawa keseimbangan sekali lagi. Keseimbangan antara hidup yang sering harus terhubung dengan banyak orang lewat platform digital dengan hidup yang sesekali harus menyingkir dari semua itu. Hidup sendiri yang benar-benar sendiri mungkin satu-satunya obat penawar untuk kita yang telah hidup di tengah era digital yang semakin gila. 

Michael Harris mengingatkan kita bahwa membangun hubungan yang kuat dan bermakna di dunia sekitar kita hanya bisa dimulai jika kita merajut hubungan yang kokoh dan berharga dengan diri kita sendiri yang dimulai dengan merangkul 'kesendirian', 'kesunyian', 'keterkucilan'. Seberapa banyak tantangan yang dihadapi ketika memutuskan untuk 'sunyi', 'sendiri', 'terkucil', mungkin akan banyak membutuhkan motivasi sehingga jangan ketinggalan untuk menambah buku ini ke rak buku untuk memberi sebuah boost menaikkan tingkat motivasi! 


Closing:

Bintang yang diberikan untuk buku ini adalah 4.0. Asal tahu saja, bagian permulaan dan penutupan buku ini dimulai serta diakhiri dengan sangat kuat. Membahas tentang pentingnya solitude dan sudah sangat susah untuk dilakukan di dunia modern ini. Dari dua bagian ini, saya menyetujui pernyataan Michael Harris bahwa media sosial bagaikan pedang dengan dua sisi yang saling berlawanan. Contohnya adalah saya menyukai internet dan media sosial karena saya bisa mendapatkan jawaban cepat dari pertanyaan saya yang belum terjawab. Kemudian, saya memakai beberapa situs untuk menemukan rekomendasi misalkan buku, video game, cara menulis yang bagus, dan musik yang sedang hits atau cocok untuk dicoba. Akan tetapi, saya juga perlahan menyadari bahwa interaksi di media sosial bukanlah interaksi sosial yang nyata dan saya sangat tidak menyukai disinggahi perasaan takut kalau tidak membawa smartphone keluar rumah, bahkan hanya ke minimarket yang dekatnya hanya 200 meter dari rumah! Darisini saya bisa menarik satu simpulan bahwa kita telah kehilangan sesuatu akibat yang ditimbulkan dari terus melakukan kemampuan yang erat dibantu dengan sebuah mesin. Sebut saja, kemampuan menjelajah tempat baru tanpa bantuan GPS. Ada lagi, kemampuan untuk benar-benar menikmati waktu sunyi tanpa memikirkan sesekali cek e-mail. Saya merasa tujuan buku ini untuk membuat pembacanya terus memikirkan ulang pilihan-pilihan yang kita ambil di kehidupan sehari-hari dan untuk saya sendiri, hal ini tergapai dan masuk akal. 

Kecintaan saya yang lain untuk buku ini terdapat pada penjelasan Michael Harris yang menyajikan bukti nyata dan studi kasus untuk memperkuat 'keterkucilan', 'kesunyian' dan surprise! Ada juga 'kebosanan'! Michael Harris menulis kasus unik dari orang-orang sukses yang telah menganut konsep solitude dengan sepenuh hati. Dia juga ikut melampirkan contoh figur bersejarah dan artis yang mengaku betapa pentingnya untuk menjauh dari telepon dan internet supaya kita bisa kembali pada sifat alami kita yaitu pemikir serius sejati sebelum ditemukannya internet dan teknologi. Michael Harris dan beberapa figur yang dilampirkan dalam bukunya ingin mengingatkan pembaca bahwa kita terbiasa selalu terhubung sehingga lupa makna dibalik diam dan sunyi, mencobanya seperti, menerawang jauh ke horison dan melamunkan apapun. Tetapi, keadaan 'keterkucilan' dan kebosanan ini akan membuat pikiran kita benar-benar tajam dan fundamental, singkatnya 'sunyi' menimbulkan pikiran serius. 

Sisi kelemahan buku ini adalah bagian tengah buku. Saya mulai sedikit tidak fokus ketika membacanya ketika Michael Harris membahas solitude dari karya fiksi (yang kita telah tahu bahwa fiksi itu kadang banyak dramatisirnya) dijadikan sumber besar berikutnya di dunia nyata kita dan kemudian, ada bagian membahas kematian karena solitude yang sia-sia yang tidak banyak membantu saya. Kemudian, Michael Harris melenceng terlalu jauh dari topik permasalahan digital dan kultur sosial di tengah buku sehingga membuat bosan dan terkantuk-kantuk ketika membacanya, saya nyaris melewatkan halaman yang membahas ini semua. Oh terakhir, Michael Harris memasukkan terlalu banyak cerita persuasi seksualnya yang sangat tidak penting dan tidak ada hubungannya dengan solitude

Oke, untuk menutup artikel ulasan buku ini, saya melihatnya sebuah buku yang bagus. Refleksi yang bijaksana atas apa yang telah terjadi pada solitude di dunia kita yang sudah tinggi tingkat keterhubungannya. Sebagian besar buku berisi catatan rentetan peristiwa pengarangnya untuk sungguhan merasakan solitude sejati. Ada beberapa peristiwa yang berasal dari ilmuwan dan figur terkemuka yang berpikiran sama atas makna solitude untuk hidup. Bukunya pendek dan mudah dibaca tetapi, berbobot dan menstimulasi pembacanya ikut merefleksikan solitude. Buku ini hanya pengingat tentang apa yang mungkin telah hilang dan dirindukan selama berkeinginan untuk 'sendiri'. Saya mudah merekomendasikan buku ini kepada siapa saja, khususnya pada pengajar dan keluarga yang masih memiliki anak-anak sedang berkembang di era teknologi dan internet. Selamat membaca!






~Fin~







* Disclaimer: Courtesy of  Google Images.  The material published on this website is intended solely for general information and reference purposes and is not legal advice or other professional advice.  




Comments